Sabtu, 11 Juni 2011

Kesaksian Raja Heraclius Mengenai Islam

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Al Hakam bin Nafi' dia berkata, telah

mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah

bin Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin 'Abbas telah mengabarkan

kepadanya bahwa Abu Sufyan bin Harb telah mengabarkan kepadanya; bahwa Heraclius

menerima rombongan dagang Quraisy, yang sedang mengadakan ekspedisi dagang ke

Negeri Syam pada saat berlakunya perjanjian antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan

Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy. Saat singgah di Iliya' mereka menemui Heraclius

atas undangan Heraclius untuk di diajak dialog di majelisnya, yang saat itu Heraclius bersama

dengan para pembesar-pembesar Negeri Romawi. Heraclius berbicara dengan mereka

melalui penerjemah. Heraclius berkata; "Siapa diantara kalian yang paling dekat hubungan

keluarganya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi itu?." Abu Sufyan berkata; maka aku

menjawab; "Akulah yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan dia". Heraclius

berkata; "Dekatkanlah dia denganku dan juga sahabat-sahabatnya." Maka mereka

meletakkan orang-orang Quraisy berada di belakang Abu Sufyan. Lalu Heraclius berkata

melalui penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku bertanya kepadanya tentang lelaki

yang mengaku sebagai Nabi. Jika ia berdusta kepadaku maka kalian harus

mendustakannya."Demi Allah, kalau bukan rasa malu akibat tudingan pendusta yang akan

mereka lontarkan kepadaku niscaya aku berdusta kepadanya." Abu Sufyan berkata; Maka

yang pertama ditanyakannya kepadaku tentangnya (Nabi shallallahu 'alaihi wasallam)

adalah: "bagaimana kedudukan keturunannya ditengah-tengah kalian?" Aku jawab: "Dia adalah

dari keturunan baik-baik (bangsawan) ". Tanyanya lagi: "Apakah ada orang lain yang pernah

mengatakannya sebelum dia?" Aku jawab: "Tidak ada". Tanyanya lagi: "Apakah bapaknya

seorang raja?" Jawabku: "Bukan". Apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang

atau orang-orang yang rendah?" Jawabku: "Bahkan yang mengikutinya adalah orang-orang

yang rendah". Dia bertanya lagi: "Apakah bertambah pengikutnya atau berkurang?" Aku

jawab: "Bertambah". Dia bertanya lagi: "Apakah ada yang murtad disebabkan dongkol

terhadap agamanya?" Aku jawab: "Tidak ada". Dia bertanya lagi: "Apakah kalian pernah

mendapatkannya dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang dikatakannya itu?" Aku

jawab: "Tidak pernah". Dia bertanya lagi: "Apakah dia pernah berlaku curang?" Aku jawab:

"Tidak pernah. Ketika kami bergaul dengannya, dia tidak pernah melakukan itu". Berkata

Abu Sufyan: "Aku tidak mungkin menyampaikan selain ucapan seperti ini". Dia bertanya lagi:

"Apakah kalian memeranginya?" Aku jawab: "Iya". Dia bertanya lagi: "Bagaimana kesudahan

perang tersebut?" Aku jawab: "Perang antara kami dan dia sangat banyak. Terkadang dia

mengalahkan kami terkadang kami yang mengalahkan dia". Dia bertanya lagi: "Apa yang

diperintahkannya kepada kalian?" Aku jawab: "Dia menyuruh kami; 'Sembahlah Allah

dengan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan tinggalkan apa yang dikatakan

oleh nenek moyang kalian. ' Dia juga memerintahkan kami untuk menegakkan shalat,

menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim". Maka

Heraclius berkata kepada penerjemahnya: "Katakan kepadanya, bahwa aku telah bertanya

kepadamu tentang keturunan orang itu, kamu ceritakan bahwa orang itu dari keturunan

bangsawan. Begitu juga laki-laki itu dibangkitkan di tengah keturunan kaumnya. Dan aku

tanya kepadamu apakah pernah ada orang sebelumnya yang mengatakan seperti yang

dikatakannya, kamu jawab tidak. Seandainya dikatakan ada orang sebelumnya yang

mengatakannya tentu kuanggap orang ini meniru orang sebelumnya yang pernah

mengatakan hal serupa. Aku tanyakan juga kepadamu apakah bapaknya ada yang dari

keturunan raja, maka kamu jawab tidak. Aku katakan seandainya bapaknya dari keturunan

raja, tentu orang ini sedang menuntut kerajaan bapaknya. Dan aku tanyakan juga kepadamu

apakah kalian pernah mendapatkan dia berdusta sebelum dia menyampaikan apa yang

dikatakannya, kamu menjawabnya tidak. Sungguh aku memahami, kalau kepada manusia

saja dia tidak berani berdusta apalagi berdusta kepada Allah. Dan aku juga telah bertanya

kepadamu, apakah yang mengikuti dia orang-orang yang terpandang atau orang-orang yang

rendah?" Kamu menjawab orang-orang yang rendah yang mengikutinya. Memang mereka

itulah yang menjadi para pengikut Rasul. Aku juga sudah bertanya kepadamu apakah

bertambah pengikutnya atau berkurang, kamu menjawabnya bertambah. Dan memang

begitulah perkara iman hingga menjadi sempurna. Aku juga sudah bertanya kepadamu

apakah ada yang murtad disebabkan marah terhadap agamanya. Kamu menjawab tidak ada.

Dan memang begitulah iman bila telah masuk tumbuh bersemi di dalam hati. Aku juga sudah

bertanya kepadamu apakah dia pernah berlaku curang, kamu jawab tidak pernah. Dan

memang begitulah para Rasul tidak mungkin curang. Dan aku juga sudah bertanya

kepadamu apa yang diperintahkannya kepada kalian, kamu jawab dia memerintahkan kalian

untuk menyembah Allah dengan tidak menyekutukan dengan sesuatu apapun, dan

melarang kalian menyembah berhala, dia juga memerintahkan kalian untuk menegakkan

shalat, menunaikan zakat, berkata jujur, saling memaafkan dan menyambung silaturrahim.

Seandainya semua apa yang kamu katakan ini benar, pasti dia akan menguasai kerajaan yang

ada di bawah kakiku ini. Sungguh aku telah menduga bahwa dia tidak ada diantara kalian

sekarang ini, seandainya aku tahu jalan untuk bisa menemuinya, tentu aku akan berusaha

keras menemuinya hingga bila aku sudah berada di sisinya pasti aku akan basuh kedua

kakinya. Kemudian Heraclius meminta surat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang

dibawa oleh Dihyah untuk para Penguasa Negeri Bashrah, Maka diberikannya surat itu

kepada Heraclius, maka dibacanya dan isinya berbunyi: "Bismillahir rahmanir rahim. Dari

Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya untuk Heraclius. Penguasa Romawi, Keselamatan

bagi siapa yang mengikuti petunjuk. Kemudian daripada itu, aku mengajakmu dengan seruan

Islam; masuk Islamlah kamu, maka kamu akan selamat, Allah akan memberi pahala

kepadamu dua kali. Namun jika kamu berpaling, maka kamu menanggung dosa rakyat kamu,

dan: Hai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada

perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita

persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian

yang lain sebagai Rabb selain Allah". Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada

mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Abu Sufyan menuturkan: "Setelah Heraclius menyampaikan apa yang dikatakannya dan

selesai membaca surat tersebut, terjadilah hiruk pikuk dan suara-suara ribut, sehingga

mengusir kami. Aku berkata kepada teman-temanku setelah kami diusir keluar; "sungguh dia

telah diajak kepada urusan Anak Abu Kabsyah. Heraclius mengkhawatirkan kerajaan

Romawi."Pada masa itupun aku juga khawatir bahwa Muhammad akan berjaya, sampai

akhirnya (perasaan itu hilang setelah) Allah memasukkan aku ke dalam Islam. Dan adalah

Ibnu An Nazhur, seorang Pembesar Iliya' dan Heraclius adalah seorang uskup agama

Nashrani, dia menceritakan bahwa pada suatu hari ketika Heraclius mengunjungi Iliya' dia

sangat gelisah, berkata sebagian komandan perangnya: "Sungguh kami mengingkari

keadaanmu. Selanjutnya kata Ibnu Nazhhur, "Heraclius adalah seorang ahli nujum yang

selalu memperhatikan perjalanan bintang-bintang. Dia pernah menjawab pertanyaan para

pendeta yang bertanya kepadanya; "Pada suatu malam ketika saya mengamati perjalanan

bintang-bintang, saya melihat raja Khitan telah lahir, siapakah di antara ummat ini yang di

khitan?" Jawab para pendeta; "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi, janganlah anda

risau karena orang-orang Yahudi itu. Perintahkan saja keseluruh negeri dalam kerajaan anda,

supaya orang-orang Yahudi di negeri tersebut di bunuh." Ketika itu di hadapakan kepada

Heraclius seorang utusan raja Bani Ghasssan untuk menceritakan perihal Rasulullah

shallallahu 'alaihi wasallam, setelah orang itu selesai bercerita, lalu Heraclius memerintahkan

agar dia diperiksa, apakah dia berkhitan ataukah tidak. Seusai di periksa, ternyata memang

dia berkhitam. Lalu di beritahukan orang kepada Heraclius. Heraclius bertanya kepada orang

tersebut tentang orang-orang Arab yang lainnya, di khitankah mereka ataukah tidak?" Dia

menjawab; "Orang Arab itu di khitan semuanya." Heraclius berkata; 'inilah raja ummat,

sesungguhnya dia telah terlahir." Kemudian heraclisu berkirim surat kepada seorang

sahabatnya di Roma yang ilmunya setarf dengan Heraclisu (untuk menceritakan perihal

kelahiran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam). Sementara itu, ia meneruskan

perjalanannya ke negeri Himsha, tetapi sebelum tiba di Himsha, balasan surat dari

sahabatnya itu telah tiba terlebih dahulu. Sahabatnya itu menyetujui pendapat Heraclius

bahwa Muhammad telah lahir dan bahwa beliau memang seorang Nabi. Heraclius lalu

mengundang para pembesar Roma supaya datang ke tempatnya di Himsha, setelah

semuanya hadir dalam majlisnya, Heraclius memerintahkan supaya mengunci semua pintu.

Kemudian dia berkata; 'Wahai bangsa rum, maukah anda semua beroleh kemenangan dan

kemajuan yang gilang gemilang, sedangkan kerajaan tetap utuh di tangan kita? Kalau mau,

akuilah Muhammad sebagai Nabi!." Mendengar ucapan itu, mereka lari bagaikan keledai

liar, padahal semua pintu telah terkunci. Melihat keadaan yang demikian, Heraclius jadi

putus harapan yang mereka akan beriman (percaya kepada kenabian Muhammad). Lalu di

perintahkannya semuanya untuk kembali ke tempatnya masing-masing seraya berkata;

"Sesungguhnya saya mengucapkan perkataan saya tadi hanyalah sekedar menguji keteguhan

hati anda semua. Kini saya telah melihat keteguhan itu." Lalu mereka sujud di hadapan

Heraclius dan mereka senang kepadanya. Demikianlah akhir kisah Heraclius. Telah di

riwayatkan oleh Shalih bin Kaisan dan Yunus dan Ma'mar dari Az Zuhri. (Shahih Bukhari nomor 6)

Tidak ada komentar: